Chin Up! C'est la vie!

6:59 AM Tann 4 Comments



Setelah berada kurang lebih sebulan di Indonesia untuk mengurus NyoNya dan menghadiri acara NNW 2nd Anniversary Lunch, saya dan Zey pun dijadwalkan untuk pulang ke Korea pada tanggal 19 Februari 2016 yang lalu. Tapi ternyata Allah Maha Asyik, suami saya mendapatkan tugas dinas ke Indonesia pada tanggal 23-25 Februari, alhasil flight saya dan Zey diundur menjadi tanggal 28 Februari.

It's all seemed so perfect until 2 weeks before our flight, suami saya mengeluh sakit perut seperti ditusuk, meriang namun tidak demam, dan BAB berdarah. Saya ingat pada tahun 2014 yang lalu dia pernah didiagnosa wasir, dan pada bulan Desember 2015 dia mengalami gejala serupa juga. Karena adanya riwayat wasir tersebut, suami saya yang cukup sehat sehingga jarang ke dokter, menolak untuk dibawa ke dokter. However, karena range dari Desember-Februari cukup dekat dan saya sedang berada di Indonesia, saya sarankan suami saya untuk periksa ke dokter.

Akhirnya, periksa lah suami saya ke dokter gastro di Soon Chun Hyang University Hospital Seoul. Mendengar penjelasan suami saya, dokter langsung menyuruh dia untuk segera kolonoskopi. Hasil kolonoskopi keluar seminggu kemudian dan selama itu dia masih aktif bekerja seperti biasa, malah load kerjaan lebih dari biasanya karena kebetulan kantor suami sedang sibuk luar biasa.

Satu minggu berlalu, suami saya pun kembali ke rumah sakit dan hasilnya ternyata sangat mengejutkan! Setelah dilakukan kolonoskopi dan biopsi sample, suami saya didiagnosa terkena kanker usus besar (colon cancer). Suami saya shock, saya yang mendengar via telepon shock bukan main, dokter pun shock berat karena suami saya baru berusia 27 tahun, tidak merokok, tidak minum alkohol. HOW COME??!! Dokter di Korea menyarankan untuk segera dilakukan pemeriksaan menyeluruh, dan pada akhirnya karena dia akan tugas ke Indonesia, kami memutuskan bahwa check up lebih lanjut akan dilakukan di Indonesia.

Flight suami pun dipercepat menjadi tanggal 20 Februari. Hari Seninnya, kami langsung mengunjungi poli bedah di RSPAD Gatot Subroto Jakarta (alasan pemilihan RS ini adalah karena fasilitas dan alat-nya sudah banyak diupgrade waktu jaman Pak SBY dulu, dan kami juga ada kerabat yang merekomendasikan RS ini). Hasil check up dan konsultasi dengan dokter bedah digestif di RSPAD mengkonfirmasi diagnosa dokter Korea, bahwa memang ada kanker pada usus besar suami saya. Namun, untuk mengetahui sudah sejauh mana penyebarannya, perlu dilakukan CT scan.

Alhamdulillah jalannya dimudahkan oleh Allah Sang Maha Pembuka Jalan. Kami mendapatkan jadwal CT Scan hari kamis nya. Setelah melakukan CT Scan, diketahui lah bahwa kanker suami saya sudah mencapai stadium 3B. Hari itu juga suami saya masuk opname dan dijadwalkan untuk operasi pada hari Senin minggu depannya.

Dua malam pertama sejak mengetahui berita tersebut dipenuhi oleh air mata. Apalagi pada saat itu posisinya suami saya masih di Korea. "What should I do?" memenuhi otak saya. Tapi saya sadar, saya tidak boleh terjebak emosi negatif karena suami membutuhkan dukungan saya. Jadi instead of energi nya dihabiskan untuk menangis, mencari kambing hitam, atau marah, saya fokuskan untuk berdoa dan mencari kisah-kisah sukses orang yang sembuh dari kanker. Selanjutnya, saya langsung menyuruh dia untuk STOP makan nasi, daging merah, dan dairy products (susu, keju, dan sebangsanya). He was raw vegan sampai hari operasi tiba. Saya juga mengganti air minum nya dengan Kangen Water dan air Zam-Zam.

Support system pun dibentuk. Karena Zey masih menyusu dan sangat time-energy consuming untuk bolak balik Jatiwarna-Senen setiap hari, saya pun menyewa apartment Mitra Oasis tepat di depan RSPAD supaya saya bisa tek tok antara suami dan Zey. Ibu dan adik saya dari Bandung pun diboyong untuk membantu mengasuh Zeya. Mama mertua pun cuti panjang demi untuk menunggui anaknya.

Hari operasi pun tiba. Berjuta doa saya panjatkan untuk suami tercinta. Saya mengantarnya sampai ruang tunggu operasi. Kami bahkan sempat bercanda sebelum masuk ruangan. That was my goal indeed.. Untuk tidak terlihat stress di depan dia karena semangat adalah faktor nomor 1 untuk kesembuhan pasien kanker. Operasi berlangsung lama, 4 jam. Tapi berkat rahmat Allah SWT melalui tangan dr. A. Hamid dan tim nya, operasi pengangkatan kanker usus suami saya berjalan lancar.

Proses recovery pun berjalan dengan sangat memuaskan. Di hari ke-3 pasca operasi, semua selang (lambung, catheter, oksigen) sudah dilepas. Sudah bisa minum dan sedikit-sedikit belajar jalan. Lukanya pun sudah hampir kering. Saya sangat terharu dan bangga melihat semangat dia untuk segera sembuh.

Sekarang, perjuangan selanjutnya masih harus dilakukan. Setelah hasil patologi anatomi terhadap tumor dilakukan, kami harus menghadapi kemoterapi. Tapi itu adalah cerita lain.. Untuk sekarang, saya sangat bersyukur karena kami dipercaya untuk "mengemban" ujian ini, diingatkan untuk lebih dekat dengan-Nya, dan dimudahkan dalam proses treatment nya.

And at the end.. All I have to do is to chin up! C'est La Vie! Ada senang ada susah.. Ada naik ada turun.. Ada sehat ada sakit.. Yang jelas, Saya harus tetap kuat untuk suami dan Zeya tercinta.. SEMANGAT! ^^


PS: baca perjalanan perjuangan kami melawan kanker di post lainnya:
Cerita awal
Setelah pulang dari Rumah Sakit
Cara membantu pasien kanker
Pengalaman kemoterapiSetelah selesai kemoterapi
Hasil screening kanker tahunan (1)
Suplemen pendamping kemoterapi

4 comments:

  1. Salut buat kak bintan dan kak tessal. Chin up tetap semangat! Banyak kerabat menyayangi kak bintan dan kak tessal, pasti banyak doa yang mengalir. Love your family, from uma rendi and amazara <3

    ReplyDelete
  2. Wah luar biasa mbak perjuangannya, untung saja kebetulan pas lagi ke indo. Mudah2an sehat semua sekeluarga ya.

    ReplyDelete
  3. Ya Allah.. Sikon suaminya kok bs sama persis sama saya??!! Pas divonis umur 27, dimulai dari wasir, gk merokok dan alkohol, tp kena kanker usus besar!

    Keep update ya mbak.. Biar sy bs mantau n jd penyemangat. :)

    ReplyDelete