Cerita Sukses Menyapih tanpa Drama

12:10 AM Tann 4 Comments



Anyone who knows me and Zeya will agree; Zeya ratu nyonyon banget..! Di minggu-minggu pertamanya lahir ke dunia, dia pernah menyusu hingga 5 jam nonstop! Di usia 4 bulan, beratnya sudah 8kg. Semakin besar, frekuensi menyusunya tidak juga berkurang. Sampai usia 23 bulan saja dia masih bangun malam lebih dari 5x untuk menyusu. Sangat melelahkan, terutama karena saya masih harus bekerja mengurus NyoNya setelah Zeya tidur. Selama 'jam kerja' saya, saya harus bolak balik menyusui Zeya yang memang sering sekali terbangun. Memang sih, lama kelamaan saya terbiasa dan setelah absen ngeblog beberapa minggu, akhirnya jadi juga menulis post tentang Tips Mengatur Waktu untuk Mompreneur. Tapi kebayang kan jipernya saya menghadapi proses sapih.

Ternyata eh ternyata.. Hari ini, sepuluh hari setelah sapih, saya bisa berkata; alhamdulillah lancar jaya proses nya. Bebas drama. Kayanya ini achievement terbesar saya selama 2016. Bagi saya, melebihi achievement NyoNya yang bisa giving away 50 mio for charity. Haha..

Alright, back to the start. Di post kali ini, saya ingin berbagi cerita tentang proses penyapihan ini. Perlu dicatat bahwa saya bukanlah orang yang percaya 100% sama teori, karena saya percaya bahwa anak juga manusia, bukan robot. Jadi tidak bisa semua teori parenting diterapkan sama ke semua anak, termasuk teori Weaning with Love (WwL). Jujur, penyapihan Zeya tidak full WwL karena masih melibatkan brotowali, tapi syukurlah kedua pihak (ibu dan bayi) tidak ada yang merasa disakiti atau drama berlebihan.

So, kenapa saya tidak memilih full WwL? Beberapa alasan; yang pertama karena saya termasuk yang percaya utk mengikuti anjuran dalam al Quran untuk menyusui sampai 2 tahun. Udah ada aturan dari yg Mencipta, pasti ada alasan di balik semuanya, dan salah satu teman saya memberi tahu saya bahwa setelah usia 2 tahun anak akan mulai mengenal nafsu & keinginan. That's why penyapihan di usia 2 tahun juga sebagai salah satu bentuk kontrol terhadap hal ini. However, saya belum menemukan artikel valid tentang pendapat ini, so it's up to you to believe or not..

Kedua, to be brutally honest, saya capek. Sebagai ibu yang mengurus anak balita, suami yang sedang chemotheraphy, dan anak balita yang masih menyusu, hari-hari saya selalu dilalui dengan kehectican. Alangkah nyamannya jika saya bisa tidur tanpa gangguan semalaman, demi merecharge tenaga supaya siap tempur lagi besok pagi nya.

Ketiga, melihat karakteristik Zeya yang Ratu Nyonyo, saya jadi berpikir "kalau WWL full, mau nunggu sampai kapan???" Wkwk.. Akhirnya saya memutuskan untuk menyapih Zeya tepat setelah dia berusia 2 tahun dan dengan menggunakan 'penghalang' brotowali, karena Zeya sensitif sekali dengan rasa pahit.

Jadi, untuk meminimalisir 'shock', 3 bulan sebelum sapih saya sudah countdown. Bilang kalau sesudah ulang tahun ke 2, Zeya tidak bisa nyonyo lagi, karena nyonyo sudah bukan untuk Zeya dan rasanya juga nanti jadi gak enak. Saya ulang-ulang terus perkataan itu sampai dia 'terbrain-wash' sampai-sampai kalau ditanya, "Zey, in three months?" dia akan menjawab "no nyonyo anymore!". Proses ini saya lakukan terus dan berulang-ulang terutama sebelum dia tidur.

Semakin mendekati hari sapih, sekitar satu bulan sebelumnya, bukannya berkurang, dia malah makin menjadi-jadi nyonyonya. Duh. Saya semakin pesimis apakah proses sapih nanti akan berjalan lancar atau tidak, tapi saya tetap keukeuh membrain wash dia soal kalau nyonyo itu untuk bayi. Saya juga menyelipkan poin ini di play time dia, misalnya saat kami bermain dokter-dokteran dan mendapat 'pasien balita', saya akan berkata "wah, kakaknya sudah besar ya.. Berani ke dokter, pasti sudah gak nyonyo". Seperti itulah..

Akhirnya, masa yang dinanti tiba juga. Zeya pun berulang tahun ke 2. Lho, tapi kok sekarang kebalik, malah saya nya yang galau gak karuan. Cemas apakah Zeya akan tersakiti atau tidak, apakah dia akan masih tetap dekat dengan saya, apakah saya akan masih bisa memeluknya, dan segelintir keraguan lain berkecamuk di pikiran dan hati saya. Sampai akhirnya, H+1 2 tahun, ibu saya memetikkan batang brotowali dan menyuruh saya untuk mengoleskannya pada puting. Ibu saya bilang bahwa untuk kebaikan anak, harus tega, harus keukeuh. Akhirnya saya meluruskan niat, dan dengan mengharap ridho Allah, saya oleskan brotowali tersebut.

Pagi hari sekitar jam 9, kami sedang menonton Shaun the Sheep di ruang tengah hingga akhirnya Zeya menggelendoti saya dan bilang "Mim, mau nyonyo." Saya mengingatkan dia "Zey, ingat lho Zeya sudah bukan bayi lagi, nyonyo kan untuk bayi. Gak enak lho.." Tapi dia ngotot sambil senyum-senyum tengil ngotot mau nyonyo. Dia bilang "coba aja, mim.." Ya sudah.. Baru menyentuhkan bibirnya ke PD saya, dia langsung menarik kepalanya/ Bengong lamaaaa dengan mulut terbuka, lalu heboh bilang "yuck! Nyonyonya gak enak. Mau minum!" Jauh di luar ekspektasi saya, dia tidak menangis sama sekali. Bahkan, setelah minum, dia malah tertawa kecil sambil bilang "ih, nyonyonya pait. Gak enak."

Setelah kejadian di pagi itu, akhirnya Zeya tidak mau menyusu, dia sendiri yang menolak. Saat malam tiba, saya deg-degan juga, gimana caranya Zeya bisa tidur padahal selama ini dia selalu menyusu sebelum tidur. Next thing I know, we lay on bed together reading books and prayers. Dia membolak balik buku cerita kesukaannya sampai bosan. Setelah itu dia berbaring dan bilang pada saya "Mim, nyonyo gak enak ya?" Saya menatap matanya, mengangguk pelan, dan tersenyum kecut. Is this the right thing to do? Saya bertanya dalam hati. Sekali lagi saya kuatkan diri saya. Dia pun lalu berkata lagi "Mim, pegang aja boleh?" saya pun mengiyakan. Akhirnya dia menempelkan pipinya ke dada saya, dan seiring dengan terpejamnya matanya, melambatnya nafasnya, Zeya pun terlelap ke alam mimpi. Air mata saya mengalir pelan. Menyapih anak berarti juga menyapih ibunya, dan momen ini menjadi sangat emosional bagi saya. Sambil mengecup tangan mungilnya, saya pun berdoa, mensyukuri apa yang sudah terjadi di hari itu. Bersyukur karena diberikan kesempatan untuk bisa full menyusui selama 2 tahun, bersyukur karena diberikan kemantapan hati untuk menyapih, dan bersyukur karena diberikan anak yang begitu manis. Tidak ada satu tangisan pun keluar dari bibir Zeya hari itu. Semuanya terjadi dengan begitu mudah. Alhamdulillah..

Tengah malam, seperti kebiasaannya di malam-malam sebelumnya, Zeya masih terbangun mencari nyonyo. Pada saat itu, yang saya lakukan hanya mengusap2 punggungnya pelan sambil berkata "Ssssttt.. Sayang, kan Zeya sudah besar, nyonyo buat bayi ya..". Dan dia berkata "oh iya" lalu kembali tidur.

Menjelang subuh, PD saya mulai bengkak, dan Zeya pun memang selalu kuat menyusu saat subuh. Oleh karena itu untuk menghindari shock pada PD, saya susui Zeya saat subuh itu. Tujuannya adalah supaya PD saya bisa menyesuaikan produksi air susunya tanpa perubahan yang drastis, dan dengan kondisi Zeya yang menyusu subuh (setengah sadar setengah tidur) membuat dia tidak ingat bahwa dia sudah menyusu dan keesokan harinya dia benar-benar tidak mau nyonyo. Rutinitas nyonyo subuh setengah sadar itu saya lakukan selama 3 malam. Setelah payudara dirasa tidak terlalu bengkak, saya pun akhirnya full memberhentikan nyonyo Zeya, termasuk saat subuh.

Hari pertama setelah full berhenti, PD saya mulai 'berbatu', namun saya siasati dengan kompres air hangat dan pijat. Saya juga sempatkan untuk mampir ke spa dan having a really nice full body massage. Surprisingly, posisi telungkup dengan punggung dipijat secara tidak langsung berefek ke PD juga. Setelah pijat, PD terasa lebih ringan. Alhasil, walaupun 'bebatuan' dan rasa tidak nyaman pada PD berlangsung sampai 2 mingguan, tapi saya tidak sempat merasakan meriang parah sampai mengganggu aktifitas saya, ataupun 'banjir ASI' seperti cerita-cerita orang tua saya dulu.

Sekarang, saya bisa say bye bye pada bra menyusui! Walaupun belum pada baju menyusui karena lemari saya penuh dengan NyoNya Nursing Wear dan MamiBelle. Haha..

So, itulah cerita saya menyapih anak pertama saya. Intinya, proses penyapihan dialami kedua belah pihak, menyapih anak sama dengan menyapih ibu. Maka dari itu selain menyiapkan mental anak, perlu juga untuk menyiapkan mental ibu. Selain itu, yakinkan diri dan percaya bahwa anak itu pintar, dia akan mengerti apa yang kita kataakan, jadi kalau kita terus encourage dia untuk "jadi besar", then she will. :)
Hope you all mommies out there have an easy and peaceful weaning process ya! See you on next post!

Best,
B

4 comments:

  1. Setuju banget menyapih itu butuh keikhlasan kedua belah pihak. Aku lagi berjuang niiiih. Doakan yaaaah huhuhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi.. Iya bener mom! Semangat yaaaa.. Insya Allah bisa. :)

      Delete
  2. huhuhu, aku masih nggak tega, udah mo 3.5 taon aja nih, masih kenceng #gubrag

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi.. Selama ibu anak masih enjoy sih gak apa2 mom.. ^^

      Delete